Rawat Candi Mataram Kuno di Kayen Pati, Nur Rohmat: Anggaran Pemeliharaan Nihil

(Foto: Nur Rohmat, Juru Pelihara Situs Candi Kayen, membersihkan situs bersejarah yang berlokasi di Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Pati, tersebut, Sabtu 25 Apr 2026)

Kabarpatigo.com - PATI - Situs Candi Kayen, satu-satunya peninggalan bangunan bersejarah berbahan batu bata di Kabupaten Pati, kini kondisinya memprihatinkan.

Minimnya dukungan fasilitas dan anggaran dari Pemerintah Daerah (Pemda) memaksa juru pelihara bekerja dengan alat seadanya di tengah nilai sejarah situs yang sangat tinggi.

Nur Rohmat, Juru Pelihara Situs Candi Kayen, mengungkapkan bahwa sejak pengelolaan situs sepenuhnya beralih ke Pemerintah Kabupaten Pati, bantuan sarana prasarana perawatan justru terhenti.

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa saat situs masih di bawah binaan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3).

"Kalau di BP3 dulu kami dikasih jatah tahunan berupa sapu, pacul, sabit, hingga obat rumput. Tapi sekarang di bawah Pati, tidak ada sama sekali. Saya bekerja mencabuti rumput manual pakai tangan. Padahal saya sudah usulkan berkali-kali, tapi alasannya tidak ada anggaran," ujar Nur Rohmat saat ditemui di lokasi, Sabtu (25/4/26).

Berdasarkan keterangan Nur Rohmat, Situs Candi Kayen ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2009. Saat itu, di lokasi tersebut warga berencana membangun sebuah musala untuk memudahkan para petani yang sedang bekerja di sawah agar dapat beribadah tanpa harus pulang ke rumah.

"Pada waktu menggali pondasi, kami menemukan susunan batu bata yang masih terstruktur," kenang Nur Rohmat.

Temuan tersebut kemudian dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, lalu diteruskan ke BP3, hingga akhirnya ditangani oleh Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta.

Peninjauan resmi oleh Balar dilakukan pada Mei 2010, yang kemudian diikuti dengan proses ekskavasi bertahap dari tahun 2010 hingga 2013.

Situs ini terdiri atas dua bangunan utama, yakni candi induk dan candi perwara.

Candi induk memiliki ukuran 6 x 6 meter, sementara candi perwara berukuran 2 x 4 meter.

Candi induk menghadap ke arah barat, sedangkan candi perwara menghadap ke arah timur.

Baca juga: Bubarkan Balap Liar di JLS Pati, Polisi Amankan 7 Remaja dan Sita Mobil Berisi Miras

Baca juga: Agnes Aditya Rahajeng jadi Puteri Indonesia 2026, Karina Moudy Widodo Jadi Puteri Indonesia Pariwisata 2026

Bangunan terbuat dari batu bata klasik dengan ketebalan rata-rata 10 hingga 12 cm dan panjang mencapai 40 cm.

Berdasarkan ukuran bata, situs ini diduga berasal dari abad ke-7 hingga ke-9 Masehi, era Mataram Hindu sebelum berdirinya Candi Borobudur.

Meskipun memiliki nilai sejarah yang sangat penting sebagai simbol penyebaran budaya melalui jalur Pantura, Nur Rohmat mengeluhkan minimnya tunjangan dan perhatian terhadap fasilitas pendukung.

Saat ini, reruntuhan bagian tubuh dan atap candi hanya disimpan di ruang penyimpanan yang kurang layak dengan kondisi atap yang bocor.

Selama ini, untuk merawat situs bersejarah ini, Nur Rohmat mendapatkan honor sebesar Rp475.000 per bulan dari Pemda. Dengan besaran honor sedemikian, Nur Rohmat terkadang masih harus mengeluarkan biaya untuk perawatan.

"Harapan saya, pemerintah punya pos anggaran khusus untuk pemeliharaan kebudayaan klasik seperti ini, karena ini satu-satunya yang tersisa di Pati," pungkasnya. (tribun)

Komentar