(Foto: ilustrasi)
Kabarpatigo.com - PATI - Harga garam di tingkat petambak di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengalami penurunan hingga Rp700 per kilogram.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati menyebut belum adanya regulasi dari Pemerintah Pusat terkait stabilisasi harga menjadi salah satu kendala.
Kepala DKP Kabupaten Pati, Hadi Santoso, mengatakan Pemkab Pati tidak memiliki kewenangan untuk mengatur stabilitas harga garam. Menurutnya, harga garam di tingkat petambak masih sangat bergantung pada kondisi pasar, terutama ketersediaan stok dan permintaan.
“Pemkab tidak punya kewenangan untuk stabilisasi harga garam, fluktuasi harga sesuai dengan kondisi pasar (stok dan permintaan). Regulasi dari pusat pun belum ada yang mengaturnya,” ujar Hadi.
Hadi menjelaskan, upaya yang dilakukan Pemkab Pati untuk membantu petambak ketika harga garam turun salah satunya dengan mendorong keberadaan koperasi penyimpanan hasil panen garam.
Saat ini, kata dia, sudah terdapat dua koperasi yang mengelola penyimpanan hasil panen garam. Namun, keberadaan koperasi tersebut dinilai masih belum mencukupi untuk menampung hasil produksi garam petambak di Pati.
Karena itu, DKP mendorong kelompok petambak garam di sejumlah wilayah untuk membentuk koperasi. Koperasi tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan garam ketika harga sedang anjlok.
Dengan mekanisme tersebut, petambak tidak harus langsung menjual seluruh hasil panennya saat harga rendah. Garam dapat dikeluarkan dari gudang penyimpanan ketika harga mulai membaik.
“Sudah ada beberapa koperasi garam di Pati dan mengelola gudang garam nasional dan terus kami dorong untuk mendirikan koperasi lainnya,” jelasnya.
Baca juga: Profil Lengkap Ketua Umum PBNU Masa Khidmat 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfudz
Sebelumnya, salah seorang petambak garam di Desa Tluwuk, Kecamatan Wedarijaksa, Bukhori, mengungkapkan harga garam yang diterimanya sempat berada di angka Rp1.000 per kilogram. Namun, seiring meningkatnya produksi, harga tersebut turun menjadi sekitar Rp700 per kilogram.
Menurut Bukhori, penurunan harga terjadi karena produksi garam meningkat seiring kondisi cuaca yang mendukung.
Sementara itu, petambak di Pati masih menghadapi keterbatasan tempat penyimpanan untuk menahan hasil panen saat harga sedang rendah.
“Di samping juga memang produksi garam semakin bertambah, kendalanya di sini saya kira di wilayah Pati belum ada koperasi yang menangani atau menyimpan supaya harga garam bisa stabil,” ujarnya. (jat)

Komentar
Posting Komentar