Puasa, Tirakat, dan Disiplin Elite: Jalan Sunyi Menuju Indonesia Maju

Oleh: M Shoim Haris*

Kabarpatigo.com - Prolog: Jalan Panjang Sebuah Bangsa

Jutaan manusia Indonesia berhenti makan dan minum sebelum adzan subuh dikumandangkan. Mereka tetap bekerja di siang hari, ke sawah, ke kantor, atau berjibaku dengan peluh dan keringat mencari nafkah. Saat senja tiba, adzan magrib berkumandang, mereka menghentikan puasa hari itu, untuk memberikan hak tubuh akan asupan yang diperlukan. Malam hari dilalui dengan bermunajat, mendekatkan diri pada Yang Di Atas, agar frekuensi duniawi selalu terkorelasi dengan yang ukhrawi.

Inilah irama kehidupan yang berulang setiap tahun di negeri ini. Sebuah ritme yang mengajarkan bahwa tujuan hidup tidak hanya personal, tidak hanya pendek, tidak hanya instan. Puasa mengajarkan bahwa laku hidup adalah perjalanan panjang, lintas generasi, lintas waktu, yang harus dijalankan dengan istiqamah—disiplin dan konsistensi—serta kesabaran. Ia adalah madrasah tanpa dinding, tempat jutaan rakyat belajar bahwa menunda kepuasan demi tujuan yang lebih tinggi adalah pangkal dari segala kemuliaan.

Puasa merupakan praktek bangsa-bangsa terdahulu di seluruh dunia. Dalam tradisi Nusantara, puasa adalah bagian dari lalu tirakat, yaitu, laku menahan hawa nafsu melalui puasa atau pantangan tertentu yang disertai amalan khusus. Ia adalah kelanjutan dari semangat puasa ke dalam laku hidup sehari-hari, sebuah jalan sunyi untuk menempa diri agar tetap teguh di tengah godaan.

Ada benang merah yang menghubungkan keduanya—puasa dan tirakat. Keduanya adalah fondasi spiritual yang menopang keberdaban sebuah bangsa. Setiap tahun, di bulan yang dinanti, puasa Ramadhan hadir bukan sekadar sebagai kewajiban ritual, melainkan sebagai ruang latihan bersama. Di ruang itu, bangsa ini mengasah jiwa, mematangkan rasa, dan menabur benih-benih disiplin. Benih yang kemudian tumbuh dari ranah pribadi, meluas menjadi kesadaran kolektif, dan pada puncaknya, harus menjelma menjadi denyut nadi institusi-institusi yang kuat dan berwibawa.

Seperti bangsa ini yang sedang memimpikan perubahan besar—menjadi bangsa yang berperadaban tinggi. Maka laku tirakat yang istiqamah dan kesabaran mesti menjadi etos yang melandasi transformasi bangsa ini. Sebab, tanpa disiplin yang lahir dari kedalaman batin, cita-cita menjadi negara maju hanyalah fatamorgana. Sejarah dan realitas telah mengajarkan kita pelajaran pahit: kekayaan alam yang melimpah bukanlah penentu kemajuan, bahkan ia bisa menjelma menjadi kutukan, jika disiplin tidak menyertai langkah sebuah bangsa.

Dan yang lebih krusial, disiplin itu harus dimulai dari atas—dari para pemegang amanah, dari mereka yang duduk di kursi kekuasaan dan pemilik modal. Karena di pundak merekalah, nasib keadilan dan masa depan disiplin kolektif dipertaruhkan.

Bagian I: Puasa, Menabur Benih Disiplin dalam Diri

Pada hakikatnya, puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa adalah spiritual retreat, sebuah pengasingan diri sementara dari hiruk-pikuk duniawi untuk berdialog dengan batin. Ia adalah perjalanan batin untuk memahami hakikat yang tersembunyi di balik kebutuhan fisik.

Dalam keheningan menahan diri, seseorang belajar mengendalikan hawa nafsu. Ia belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Ia belajar bahwa "tidak" adalah kata yang kadang harus diucapkan, bahkan pada hal-hal yang halal sekalipun, demi tujuan yang lebih tinggi. Ia belajar membersihkan jiwa dari iri dan dengki, serta membangun kesadaran bahwa hidup tidak hanya tentang memenuhi keinginan jasmani, tetapi juga tentang merawat hubungan dengan Yang Transenden dan sesama manusia.

Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan kepekaan sosial. Ketika merasakan kerongkongan kering dan perut keroncongan, seorang yang berpuasa diajak untuk turut merasakan penderitaan mereka yang kekurangan. Lapar yang dirasakannya adalah cermin dari lapar saudaranya yang setiap hari bergelut dengan kemiskinan. Dahaga yang dideritanya adalah bayangan dari dahaga mereka yang tinggal di daerah kering tanpa air bersih.

Puasa, dalam bingkai ini, menjadi tameng dari sifat destruktif sekaligus sekolah untuk membangun empati dan solidaritas. Ia adalah proses penyadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup menyendiri, yang kehidupannya tergantung pada dukungan dan bantuan orang lain. Di sinilah benih disiplin individual mulai ditabur. Seorang yang berpuasa berlatih untuk menjadi pribadi yang bertakwa, yang mampu mengendalikan diri, yang peka terhadap lingkungannya. Inilah kesalehan individual—fondasi pertama dari bangunan peradaban.

Bagian II: Tirakat, dari Kesalehan Individual ke Kesalehan Kolektif

Namun, kesalehan individual saja tidak cukup. Ia ibarat batu bata berkualitas tinggi yang berserakan, belum tersusun menjadi tembok yang kokoh. Dibutuhkan sebuah perekat dan kerangka untuk menyatukannya menjadi struktur yang kuat. Di sinilah peran tirakat.

Jika puasa adalah latihan individual, maka tirakat—terutama dalam praktik komunal seperti Malam Tirakatan 16 Agustus—adalah aktualisasi dari kesalehan individual ke dalam ranah sosial. Setiap malam menjelang Hari Kemerdekaan, di berbagai pelosok negeri, warga duduk bersama di pendopo, musala, atau halaman rumah. Mereka berdoa, membaca tahlil, atau sekadar berbincang mengenang masa-masa getir penjajahan. Ada yang menyajikan bubur merah putih, teh hangat, atau singkong rebus sebagai simbol kesederhanaan dan rasa syukur.

Dalam kesederhanaannya, tradisi ini menjadi benteng kultural agar kemerdekaan tidak sekadar dirayakan secara seremonial, tetapi dimaknai secara mendalam. Ia menjadi ruang perenungan bersama, di mana anak-anak belajar sejarah dari kisah lisan para tetua, dan warga dari berbagai latar belakang duduk setara, merekatkan ikatan sosial.

Di sinilah kita melihat wujud kesalehan kolektif. Individu-individu yang telah terlatih pengendalian dirinya melalui puasa, berkumpul, berdoa, dan bersinergi untuk tujuan bersama: mengenang jasa pahlawan, merawat kerukunan, dan menguatkan ikatan kebangsaan. Tirakat telah merajut kesalehan individual menjadi kekuatan sosial yang mempersatukan.

Bagian III: Pelajaran Sejarah, Disiplin dan Tirakat Para Pendahulu

Untuk membuktikan bahwa disiplin dan tirakat adalah prasyarat mutlak bagi kemajuan dan pencapaian besar, kita tidak perlu melihat jauh-jauh ke buku-buku manajemen modern. Cukup kita membuka lembaran sejarah Nusantara. Di sana, terukir jelas kisah para pendahulu yang mencapai puncak kejayaan bukan karena keberuntungan, melainkan karena laku tirakat dan disiplin yang membaja.

Pertama, Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada. Di abad ke-14, di puncak kejayaan Majapahit, seorang mahapatih bernama Gajah Mada mengucapkan sumpah yang mengguncang jagat Nusantara. Ia bersumpah tidak akan menikmati "palapa"—segala bentuk kenikmatan duniawi, termasuk istirahat dan makanan mewah—sebelum berhasil mempersatukan seluruh Nusantara di bawah naungan Majapahit. "Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa," ujarnya.

Sumpah ini bukan sekadar janji kosong. Ia adalah ikrar tirakat yang dahsyat. Gajah Mada menanggalkan kenyamanan pribadi, berpuasa dari kemewahan, dan mendisiplinkan dirinya dengan fokus total pada visi besarnya. Ia mengorbankan kesenangan sesaat demi cita-cita jangka panjang: menyatukan tanah air. Hasilnya? Wilayah kekuasaan Majapahit membentang luas, dari Sumatera hingga Papua, menjadi bukti nyata bahwa disiplin dan tirakat seorang pemimpin mampu melahirkan kemajuan sebuah peradaban.

Kedua, Laku Tapa Ratu Kalinyamat. Jika Gajah Mada adalah contoh tirakat seorang laki-laki untuk ekspansi wilayah, maka Ratu Kalinyamat dari Jepara adalah bukti bahwa tirakat juga menjadi senjata ampuh bagi seorang perempuan dalam melawan penjajahan. Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat tidak larut dalam kesedihan. Ia justru mengambil laku tirakat yang luar biasa berat: ia bertapa hanya dengan mengenakan cawet (kain penutup tubuh bagian bawah) dan tidak makan nasi selama bertahun-tahun.

Tirakat ini bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan sebuah disiplin spiritual untuk memusatkan seluruh energi batin dan pikirannya. Tujuannya mulia: membalaskan dendam atas kematian suaminya sekaligus mengusir penjajah Portugis dari tanah air. Hasil dari laku prihatinnya tidak main-main. Armada perangnya beberapa kali menggempur Portugis di Malaka. Bahkan, kekuatan semangat dan tirakat Ratu Kalinyamat ini mendapat pengakuan internasional. Dalam catatan sejarah Portugis, ia digambarkan sebagai "Rainha de Jepara, Senhora poderosa e rica" — Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa — yang begitu ditakuti dan disegani.

Apa yang bisa kita pelajari dari Gajah Mada dan Ratu Kalinyamat? Mereka mengajarkan bahwa kemajuan dan kemenangan tidak datang dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah komitmen spiritual untuk mewujudkannya. Komitmen itu adalah tirakat: kemampuan untuk menunda kepuasan, menahan godaan, dan memfokuskan seluruh energi pada tujuan mulia. Lebih jauh, mereka mengajarkan bahwa kesalehan individual seorang pemimpin harus mampu menjalar menjadi kesalehan kolektif rakyatnya.

Bagian IV: Dari Kesalehan Kolektif Menuju Kesalehan Institusional

Dari kesalehan kolektif inilah, benih-benih disiplin mulai terlembaga. Disiplin yang awalnya hanya urusan pribadi (menahan lapar), menjadi norma sosial (gotong royong, saling menghormati). Dan ketika norma-norma sosial ini mengkristal menjadi aturan main yang baku, sistem yang transparan, dan prosedur yang adil, maka lahirlah apa yang kita sebut sebagai kesalehan institusional.

Yaitu, sebuah kondisi di mana institusi-institusi bangsa—mulai dari keluarga, sekolah, pasar, hingga birokrasi pemerintahan dan korporasi—dijalankan dengan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, amanah, dan keadilan. Institusi tidak lagi menjadi ruang gelap bagi intrik dan korupsi, melainkan menjadi pilar-pilar kokoh yang menopang tegaknya peradaban.

Di sinilah letak poin paling krusial dan paling sulit dalam pembangunan bangsa: bagaimana memastikan disiplin tidak hanya menjadi urusan rakyat kecil, tetapi juga menjadi nafas bagi para pemegang kekuasaan dan pemilik modal. Sebab, disiplin kolektif dan disiplin elite bukan sekadar pelengkap; ia adalah ruh yang menghidupkan institusi. Tanpa ruh ini, institusi hanyalah gedung megah tanpa nyawa, prosedur tanpa keadilan, dan aturan tanpa keberanian untuk ditegakkan.

Ketika kita berbicara tentang kapasitas negara, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kemampuannya untuk melakukan dua hal yang tampak sederhana namun sangat berat:

1. Mendisiplinkan diri sendiri (aparat dan birokrasinya).
2. Mendisiplinkan kekuatan swasta (konglomerat, korporasi) agar sejalan dengan kepentingan publik.

Inilah transformasi sejati: dari negara yang lemah dan ditundukkan kepentingan segelintir elite, menjadi negara yang kuat dan berwibawa di hadapan semua warganya, tanpa kecuali.

Bagian V: Mengapa Mendisiplinkan Elite Adalah Prasyarat Mutlak?

Sejarah dan realitas kita menunjukkan bahwa kehancuran sebuah bangsa sering kali tidak dimulai dari kemiskinan rakyatnya, melainkan dari rapuhnya moral elitenya. Ketika para pemegang kekuasaan dan pemilik modal merasa diri mereka "too big to fail" atau "above the law" (di atas hukum), maka:

· Hukum menjadi tumpul. Ia hanya tajam ke bawah untuk rakyat kecil, tetapi tumpul ke atas untuk koruptor berkelas kakap.
· Sumber daya alam dikeruk segelintir kelompok. Kekayaan bangsa hanya dinikmati oleh lingkaran elite, sementara rakyat di sekitar tambang atau hutan justru hidup dalam kemiskinan.
· Persaingan usaha tidak sehat. Konglomerat yang dekat dengan kekuasaan mendapat fasilitas dan izin istimewa, sementara pengusaha kecil dan menengah mati perlahan.

Dalam kondisi seperti ini, mustahil kita melakukan lompatan kemajuan. Sebab, energi bangsa habis terkuras untuk melayani keserakahan segelintir orang, bukan untuk membangun daya saing dan kesejahteraan bersama.

Di sinilah pentingnya kesalehan institusional. Institusi yang saleh adalah institusi yang berani dan mampu:

1. Mendisiplinkan Aparatnya Sendiri.
   Seorang polisi yang melanggar harus dihukum lebih berat daripada preman biasa, karena ia adalah simbol negara. Seorang jaksa yang korup harus ditindak tanpa ampun. Disiplin aparat adalah fondasi pertama kepercayaan publik. Tanpa itu, rakyat akan sinis dan apatis. Mereka akan berpikir, "Urus diri kalian dulu sebelum mengurus kami."
2. Mendisiplinkan Konglomerat.
   Negara yang berdaulat adalah negara yang tidak takut pada pemilik modal. Ia harus mampu:
   · Menagih pajak secara adil, tanpa celah bagi praktik penghindaran pajak canggih yang hanya bisa dilakukan korporasi besar.
   · Menegakkan hukum lingkungan, memastikan perusahaan tidak merusak alam demi keuntungan jangka pendek.
   · Membongkar praktik monopoli dan oligarki yang mematikan usaha rakyat.
   · Berani mengatakan "tidak" pada proyek-proyek yang menguntungkan segelintir elite tetapi merugikan masyarakat luas.
3. Memelihara Disiplin Kolektif.
   Ini bukan soal negara yang otoriter, melainkan tentang negara yang hadir sebagai pengayom dan pengarah. Disiplin kolektif dipelihara melalui:
   · Pendidikan kewarganegaraan yang menanamkan nilai tanggung jawab.
   · Penegakan hukum yang konsisten dan tidak pandang bulu, sehingga masyarakat percaya bahwa aturan dibuat untuk ditaati bersama.
   · Kepemimpinan teladan. Para pemimpin harus menjadi contoh pertama dalam disiplin: disiplin waktu, disiplin anggaran, disiplin moral.

Bagian VI: Kapasitas Negara dan Peringatan Kutukan Sumber Daya Alam

Seperti yang telah disinggung, semua ini bermuara pada kapasitas negara. Negara yang berkapasitas lemah akan selalu menjadi "negara yang ditaklukkan" oleh kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok. Ia akan gemetar saat berhadapan dengan konglomerat, dan pura-pura buta saat aparatnya sendiri melanggar aturan.

Sebaliknya, negara yang berkapasitas kuat adalah negara yang berwibawa. Ia memiliki:

· Instrumen hukum yang tegas dan jelas.
· Sumber daya manusia yang kompeten dan berintegritas.
· Sistem pengawasan yang transparan dan akuntabel.
· Keberanian politik untuk mengambil keputusan sulit demi kepentingan jangka panjang bangsa.

Negara seperti inilah yang mampu melakukan transformasi. Ia tidak hanya mengatur, tetapi juga mengayomi. Ia tidak hanya memerintah, tetapi juga melayani. Ia tidak hanya menagih disiplin, tetapi pertama-tama memberi teladan disiplin.

Peringatan keras pun harus kita camkan. Negeri ini dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa: minyak, gas, batu bara, emas, tembaga, hutan tropis, laut yang membentang. Secara teori, kita seharusnya sudah lama melesat menjadi negara maju. Namun, realitas berkata lain. Mengapa?

Karena sejarah membuktikan bahwa kekayaan alam ternyata bukan penentu kemajuan. Bahkan, ia bisa melahirkan kutukan, jika disiplin tidak menyertai sebuah bangsa. Fenomena ini dikenal dalam ilmu ekonomi sebagai resource curse atau kutukan sumber daya alam. Banyak negara di Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin yang kaya raya akan minyak atau mineral, justru terjerumus dalam kemiskinan, konflik, dan korupsi yang berkepanjangan.

Mengapa? Karena kekayaan yang melimpah tanpa didukung institusi yang kuat dan disiplin kolektif, justru membuat sebuah bangsa malas, konsumtif, dan mudah dipecah belah oleh perebutan rente. Kekayaan menjadi kutukan karena ia menggerogoti etos kerja, menghancurkan disiplin kolektif, dan memanjakan elite untuk hidup bermewah-mewah tanpa kerja keras, serta tanpa pengawasan institusi yang efektif.

Inilah pelajaran berharga bagi Indonesia. Kekayaan alam kita adalah amanah, bukan warisan yang bisa dihambur-hamburkan. Tanpa disiplin yang terlembaga dalam sistem yang kuat, minyak dan gas kita akan habis dinikmati segelintir orang. Tanpa institusi yang bersih, hutan kita akan gundul dan laut kita akan dikuras asing. Disiplin kolektif yang telah terinternalisasi dalam institusi-institusi negaralah yang akan mengubah kekayaan alam dari potensi kutukan menjadi berkah nyata bagi seluruh rakyat.

Bagian VII: Ramadhan sebagai Ruang Latihan Tirakat Bangsa

Di sinilah, puasa Ramadhan setiap tahunnya hadir sebagai madrasah untuk melatih komitmen tersebut. Puasa melatih kita untuk disiplin dalam skala mikro: kapan harus makan, kapan harus berhenti, kapan harus menahan amarah, kapan harus memperbanyak amal. Latihan selama sebulan penuh ini dirancang untuk membentuk habitus baru, karakter baru yang kemudian terbawa ke sebelas bulan berikutnya.

Jika seorang pemimpin bangsa terbiasa menahan lapar dan dahaga, ia sedang berlatih untuk menahan diri dari korupsi. Jika para birokrat terbiasa bangun pagi untuk sahur, mereka sedang berlatih untuk hadir tepat waktu dan bekerja dengan integritas. Jika masyarakat luas terbiasa berbagi di bulan puasa, mereka sedang berlatih untuk membangun solidaritas sosial dan mengawal jalannya institusi-institusi publik agar tetap adil dan transparan. Jika para konglomerat merasakan bagaimana rasanya menahan diri dari konsumsi berlebihan, mereka sedang diajak untuk merenungkan dampak bisnis mereka terhadap masyarakat dan lingkungan.

Inilah esensi Ramadhan sebagai pembenihan disiplin: ia menumbuhkan kesalehan individual, yang kemudian melebar menjadi kesalehan kolektif, dan pada akhirnya harus memuncak pada terciptanya kesalehan institusional.

Bagian VIII: Tirakat Para Pemegang Amanah

Jika puasa dan tirakat adalah jalan sunyi menuju kemajuan bangsa, maka beban terberat jalan sunyi itu ada di pundak para elite. Rakyat kecil bertirakat dengan menahan lapar dan hemat kebutuhan. Para elite dan pemegang amanah publik harus bertirakat dengan cara yang lebih berat: menahan diri dari segala bentuk penyalahgunaan wewenang, menahan haus akan kekuasaan dan harta, dan berpuasa dari godaan untuk mengkhianati kepercayaan rakyat.

Inilah tirakat tingkat tertinggi. Ketika para pemimpin, birokrat, dan pengusaha besar mampu melakukan tirakat ini, maka disiplin kolektif akan mengalir secara alami. Rakyat akan percaya. Institusi akan hidup. Dan Indonesia akan melompat.

Tirakat mengajarkan kita untuk tidak silau oleh gemerlap kekayaan. Tirakat mengajarkan bahwa kemakmuran sejati bukan terletak pada melimpahnya sumber daya, melainkan pada kokohnya karakter yang terlembaga dalam sistem yang adil. Gajah Mada dan Ratu Kalinyamat mengajarkan bahwa kemajuan sejati dimulai dari pengendalian diri, dari kesediaan untuk bekerja keras, dan dari disiplin yang tak kenal kompromi—yang pada akhirnya harus menjelma menjadi institusi-institusi perkasa yang melampaui masa hidup sang pendiri.

Epilog: Menabur Disiplin, Menuai Institusi, Melompat Maju

Pada akhirnya, puasa, tirakat, disiplin elite, dan institusi adalah empat mata rantai yang tak terpisahkan dalam perjalanan sebuah bangsa menuju kejayaan.

· Puasa menabur benih disiplin dalam diri individu. Ia adalah fondasi, titik awal dari segalanya. Jutaan rakyat yang berpuasa sambil bekerja di sawah dan kantor adalah bukti bahwa benih itu telah lama tertanam.
· Tirakat menyirami dan menumbuhkan benih itu menjadi kesadaran kolektif. Ia adalah proses, jalan tengah yang menghubungkan pribadi dengan masyarakat, seperti dalam heningnya malam tirakatan.
· Disiplin elite adalah ujian. Ia menentukan apakah kesalehan hanya menjadi kamuflase atau benar-benar meresap ke dalam jiwa para pemimpin.
· Dan dari tanah subur kesalehan kolektif yang dijaga oleh teladan para elitelah, tumbuh menjulang pohon-pohon kokoh bernama institusi.

Hanya dengan institusi yang kuat, sebuah bangsa dapat melakukan lompatan besar, bertahan dalam badai sejarah, dan mewariskan kemakmuran kepada generasi yang akan datang. Hanya dengan negara yang berkapasitas, kita dapat mengubah kekayaan alam dari kutukan menjadi berkah. Hanya dengan pemimpin yang bertirakat, kita dapat membangun sistem yang adil bagi semua.

Di jalan sunyi itulah—dari keheningan subuh, dari peluh di siang hari, dari doa-doa di malam kemerdekaan, dari santri yang giat di laboratorium, dari pabrik yang terus berputar, dari ruang-ruang institusi yang kita bangun dengan jujur dan disiplin—kita sedang menuliskan babak baru sejarah Indonesia yang maju, berdaulat, dan bermartabat.

Selamat menempuh jalan sunyi. Selamat bertirakat untuk negeri.

*Alumni PonPes Darul Ulum Rejoso Jombang, Peserta Program Doktor Ilmu Ekonomi UNTAG Surabaya

Komentar