Oleh: Dawam Praktinyo*
(Foto: ilustrasi)
Kabarpatigo.com - Beberapa minggu terakhir, ada satu kebiasaan baru yang muncul di banyak rumah di Pati, terutama di wilayah Tayu.
Ketika lampu tiba-tiba meredup, orang-orang spontan menoleh ke televisi. Sebagian melihat kulkas. Sebagian lagi memeriksa pompa air. Mereka yang sedang bekerja di depan komputer buru-buru menekan tombol simpan.
Tidak ada kepanikan. Tidak ada kepanikan karena semua orang sudah tahu apa yang sedang terjadi. Listrik kembali turun. Bukan padam total. Bukan pula gangguan besar yang membuat satu kecamatan gelap gulita. Hanya tegangan yang naik turun, cukup untuk membuat lampu berkedip dan peralatan elektronik bekerja tidak normal.
Masalahnya, kejadian itu tidak hanya terjadi sekali. Ia datang berulang. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Dan seperti banyak hal lain yang berlangsung terus-menerus, masyarakat perlahan belajar hidup bersamanya. Sebagian diam. Sebagian mengomel. Tetapi hampir semua mulai terbiasa.
Saya sendiri mengalami kondisi itu secara langsung. Dalam beberapa minggu terakhir, kualitas daya listrik di wilayah Tayu terasa tidak stabil. Bahkan dalam sebuah acara penting yang saya hadiri, lampu mendadak meredup di tengah kegiatan. Tidak lama memang. Namun cukup untuk mengganggu konsentrasi dan memunculkan kegelisahan yang sama dari semua orang yang hadir.
Bukan soal gelapnya. Tetapi soal ketidakpastian. Karena tidak ada yang tahu apakah beberapa menit kemudian akan terjadi lagi.
Jika membaca berbagai pemberitaan selama beberapa bulan terakhir, keluhan mengenai listrik di Kabupaten Pati sebenarnya bukan cerita baru. Ada jadwal pemadaman yang berulang untuk pemeliharaan jaringan. Ada laporan mengenai gangguan listrik di sejumlah wilayah. Ada keluhan warga Kayen yang mengaku sering mengalami pemadaman. Ada pula protes warga Kutoharjo yang menilai pelayanan kelistrikan belum maksimal karena listrik sering mati secara mendadak.
Jika semua peristiwa tersebut berdiri sendiri, mungkin kita bisa menganggapnya sebagai gangguan teknis yang wajar. Namun ketika keluhan muncul dari berbagai wilayah dan terus berulang dalam rentang waktu yang relatif panjang, persoalannya menjadi berbeda. Yang muncul bukan lagi sekadar pertanyaan teknis. Melainkan pertanyaan sosial. Mengapa begitu banyak warga merasakan pengalaman yang sama? Dan yang lebih penting: siapa yang menanggung akibatnya?
Di sinilah saya teringat pada Karl Marx. Bukan Marx yang identik dengan revolusi atau pertentangan kelas dalam pengertian yang sempit. Melainkan Marx sebagai seorang pengamat yang selalu berusaha melihat hubungan ekonomi yang tersembunyi di balik pengalaman sehari-hari.
Marx percaya bahwa masalah sosial tidak boleh hanya dilihat dari gejalanya. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana biaya, keuntungan, risiko, dan beban didistribusikan dalam masyarakat.
Mari kita lihat persoalan listrik dari sudut itu. Ketika daya listrik naik turun, siapa yang pertama kali merasakan dampaknya? Jawabannya sederhana: warga.
Ketika televisi rusak akibat tegangan yang tidak stabil, warga yang membayar biaya perbaikannya. Ketika pompa air mengalami kerusakan, warga yang menggantinya. Ketika komputer mengalami gangguan, warga yang menanggung biayanya. Ketika usaha kecil kehilangan produktivitas karena mesin tidak bekerja normal, pelaku usaha yang memikul kerugiannya.
Dengan kata lain, biaya dari ketidakstabilan listrik tidak pernah benar-benar hilang. Biaya itu hanya berpindah. Dari sistem ke rumah tangga. Dari institusi ke individu. Dari persoalan publik menjadi beban privat.
Marx memiliki istilah yang sangat relevan untuk membaca situasi semacam ini. Ia berbicara tentang bagaimana masyarakat modern sering menyembunyikan hubungan sosial yang sebenarnya di balik hubungan ekonomi yang tampak sederhana. Di atas kertas, hubungan antara pelanggan dan penyedia listrik terlihat sangat jelas. Masyarakat membayar tagihan. Listrik disalurkan. Hubungan selesai.
Namun pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak sesederhana itu. Karena ketika kualitas layanan menurun, biaya tambahan yang muncul tidak ikut tercantum dalam tagihan. Padahal biaya itu nyata. Mungkin berupa ongkos servis televisi. Mungkin berupa pembelian stabilizer. Mungkin berupa penggantian komponen elektronik. Mungkin berupa kerugian usaha yang tidak tercatat.
Dalam logika Marx, kondisi semacam ini menunjukkan bahwa sebagian biaya operasional sistem sebenarnya sedang ditanggung oleh masyarakat, meskipun tidak pernah disebut demikian. Warga tidak hanya membeli listrik. Mereka juga membeli perlindungan terhadap risiko listrik. Dan perlindungan itu mereka biayai sendiri.
Yang menarik, sebagian besar masyarakat tidak lagi membicarakan persoalan ini dalam bahasa politik atau ekonomi. Mereka membicarakannya dalam bahasa keseharian.
“Wes sering ngeneki”
“Mugo-mugo TV-ku awet.”
“Meteranku eror.”
“Sampe kapan iki?”
Kalimat-kalimat semacam itu terdengar sederhana. Namun sesungguhnya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Marx menyebutnya sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi yang terus-menerus dialami. Ketika suatu masalah berlangsung cukup lama, masyarakat berhenti mempertanyakannya dan mulai menyesuaikan hidup mereka dengan masalah tersebut.
Mereka membeli UPS. Mereka membeli stabilizer. Mereka mencabut perangkat elektronik ketika cuaca buruk. Mereka mengubah kebiasaan sehari-hari. Yang berubah bukan sistemnya. Yang berubah adalah masyarakat. Masyarakatlah yang dipaksa menyesuaikan diri.
Di sinilah kritik Marx menjadi terasa sangat tajam. Menurut Marx, salah satu ciri penting masyarakat modern adalah kemampuannya mengubah persoalan kolektif menjadi persoalan individual. Masalah yang sebenarnya dialami bersama-sama akhirnya diselesaikan sendiri-sendiri. Televisi rusak menjadi urusan pemilik televisi. Pompa rusak menjadi urusan pemilik pompa. Komputer rusak menjadi urusan pemilik komputer. Padahal sumber masalahnya dirasakan secara kolektif.
Akibatnya, masyarakat sibuk mengelola dampaknya tetapi kehilangan kesempatan untuk membahas akar persoalannya secara bersama-sama. Yang terdengar akhirnya hanya keluhan-keluhan kecil yang terpisah. Bukan tuntutan kolektif terhadap kualitas pelayanan yang lebih baik.
Baca juga: Motor Honda Beat Hilang Saat Shalat Subuh di Tambakromo
Baca juga: Supriyanto Dampingi Ketua DPD Golkar Jateng Bagikan Hewan Kurban di Rembang
Tentu saja tidak adil jika seluruh persoalan ini disederhanakan sebagai kesalahan satu pihak. Jaringan listrik adalah infrastruktur yang kompleks. Ada pemeliharaan yang harus dilakukan. Ada peningkatan konsumsi energi. Ada keterbatasan teknis yang mungkin tidak mudah diatasi dalam waktu singkat.
Namun justru karena listrik telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat modern, pengalaman warga tidak boleh diperlakukan sebagai gangguan kecil yang bisa diabaikan.
Bagi masyarakat perkotaan maupun pedesaan hari ini, listrik bukan lagi sekadar fasilitas. Ia adalah fondasi kehidupan ekonomi. Anak-anak belajar dengan listrik. UMKM bekerja dengan listrik. Pedagang menyimpan barang dagangan dengan listrik. Komunikasi berlangsung dengan listrik. Bahkan pekerjaan sehari-hari kini bergantung pada listrik. Ketika kualitas listrik terganggu, yang terganggu sesungguhnya bukan hanya lampu. Tetapi seluruh aktivitas sosial dan ekonomi yang bergantung padanya.
Mungkin karena itu persoalan listrik di Pati tidak bisa hanya dibaca sebagai persoalan teknis. Ia juga merupakan persoalan tentang bagaimana risiko didistribusikan dalam masyarakat. Tentang siapa yang menanggung biaya ketika kualitas layanan menurun. Tentang bagaimana warga terus diminta memahami keadaan, sementara mereka juga harus menanggung konsekuensi ekonomi dari keadaan tersebut.
Di Tayu, sebagian orang memilih diam. Sebagian memilih mengomel. Keduanya bisa dipahami. Sebab pada akhirnya yang mereka rasakan bukan hanya lampu yang berkedip. Melainkan ketidakpastian yang masuk ke ruang tamu mereka setiap hari.
Dan seperti yang diajarkan Karl Marx, sering kali persoalan paling penting dalam masyarakat bukanlah yang paling keras terdengar, melainkan yang begitu sering terjadi hingga dianggap biasa. Karena ketika masyarakat mulai menganggap ketidakstabilan sebagai hal yang normal, saat itulah sebuah persoalan publik telah berhasil berubah menjadi beban pribadi. Dan mungkin, itu adalah bentuk masalah yang paling sulit diselesaikan. (red)
*Pemerhati sosial & warga Tayu

Komentar
Posting Komentar