Ketua Muhammadiyah Tubaba “Gila Bola” dan Suporter Fanatik PSS Sleman

(Foto: Haji Susilo saat menyaksikan final Liga 2 2026 di stadion Maguwoharjo Sleman beberapa waktu lalu)

Kabarpatigo.com - TUBABA - Suara takbir dan nyanyian suporter terdengar berbeda, namun bagi Haji Susilo Aris Nugroho keduanya memiliki satu titik temu: sama-sama lahir dari semangat kebersamaan.

Di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, nama Haji Susilo Aris Nugroho dikenal sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) yang aktif menggerakkan dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial masyarakat. Tetapi di luar ruang organisasi dan forum resmi, ada sisi lain dari dirinya yang begitu hidup—ia adalah penggemar sepak bola yang fanatik.

Banyak orang mengenalnya sebagai tokoh yang tenang, rapi dalam bertutur kata, dan aktif dalam kegiatan keumatan. Namun suasana berubah ketika pertandingan sepak bola dimulai. Wajahnya bisa memerah karena emosi pertandingan. Suaranya meninggi mengikuti irama chant tribun. Tangannya mengepal saat tim kesayangannya mencetak gol.

Di dunia sepak bola, Haji Susilo bukan penonton pasif. Ia hidup di dalam atmosfer pertandingan.

Di Tulang Bawang Barat, kisah tentang Ketua Muhammadiyah yang rela menempuh perjalanan jauh demi menyaksikan pertandingan PSS Sleman sudah bukan cerita asing. Orang-orang mengenalnya sebagai tokoh yang mampu menyatukan keseriusan seorang pemimpin organisasi dengan gairah seorang suporter garis keras.

Bagi Haji Susilo, sepak bola bukan hiburan ringan yang lewat begitu saja. Ia memandang olahraga itu sebagai ruang sosial yang mempertemukan manusia tanpa memandang latar belakang.

Di stadion, petani duduk berdampingan dengan pengusaha. Buruh bernyanyi bersama mahasiswa. Semua larut dalam identitas yang sama: mendukung tim kebanggaan.

Dan di tengah ribuan suara itu, Ketua Muhammadiyah Tubaba hadir sebagai bagian dari denyut tribun.

Kecintaannya terhadap sepak bola tumbuh sejak kecil. Masa-masa ketika lapangan kampung menjadi pusat kehidupan anak-anak sore hari. Debu beterbangan, sandal menjadi gawang, dan pertandingan sering baru berhenti saat azan magrib terdengar.

Sepak bola membentuk ingatan masa kecilnya.

Ia tumbuh di era ketika pertandingan Perserikatan dan Galatama menjadi hiburan rakyat. Nama-nama pemain nasional dihafalnya di luar kepala. Dari radio hingga siaran televisi, semuanya diikuti dengan penuh antusias.

Kegemaran itu terus bertahan hingga dewasa. Bahkan ketika kesibukan organisasi semakin padat, kecintaannya pada sepak bola tidak pernah hilang.

Di sela agenda Muhammadiyah, ia tetap mengikuti perkembangan liga nasional, pemain Timnas Indonesia, hingga dinamika suporter. Telepon genggamnya dipenuhi informasi pertandingan. Jadwal laga menjadi sesuatu yang selalu diperhatikan.

Tetapi dari semua klub yang ia ikuti, ada satu nama yang memiliki tempat paling istimewa di hatinya: PSS Sleman.

Bagi Haji Susilo, PSS Sleman bukan hanya klub sepak bola. Ada romantisme, loyalitas, dan energi rakyat yang ia rasakan dari tim berjuluk Laskar Sembada itu.

Ia menyukai karakter suporter Sleman yang militan, kreatif, dan penuh semangat. Baginya, atmosfer di Sleman memiliki identitas yang berbeda dibanding banyak klub lain di Indonesia.

Saat mengenakan jersi hijau PSS, Haji Susilo merasa seperti menemukan ruang lain dalam hidupnya. Di sana tidak ada jabatan ketua organisasi, tidak ada podium pidato, tidak ada suasana formal. Yang ada hanyalah kecintaan pada sepak bola.

Ketika pertandingan berlangsung, ia bisa berubah total.

Ia berdiri sepanjang laga. Ikut bernyanyi. Berteriak memberi dukungan. Bahkan emosinya ikut naik turun mengikuti jalannya pertandingan.

Teman-temannya sering tertawa melihat perubahan itu. Sosok yang sehari-hari tampak tenang mendadak menjadi sangat ekspresif di tribun stadion.

Namun justru di situlah letak kejujurannya sebagai pencinta sepak bola.

Ia tidak sedang menjaga citra. Ia menikmati pertandingan dengan seluruh emosinya.

Fanatisme Haji Susilo terhadap PSS Sleman mencapai titik yang membuat banyak orang kagum. Ketika jadwal memungkinkan, ia rela bepergian jauh dari Lampung menuju Yogyakarta atau kota lain demi menyaksikan pertandingan langsung.

Perjalanan panjang lintas pulau tidak dianggap beban.

Baginya, hadir langsung di stadion memberikan pengalaman yang tidak bisa digantikan layar televisi. Bau rumput lapangan, suara drum tribun, koreografi suporter, hingga ketegangan menit-menit akhir pertandingan menciptakan energi yang berbeda.

Haji Susilo ingin menjadi bagian dari energi itu.

Momen Final Liga 2 yang berlangsung dramatis baru-baru ini menjadi salah satu pengalaman paling berkesan baginya. Di tengah lautan manusia yang memenuhi stadion, Haji Susilo hadir sebagai suporter penuh semangat.

Tak ada jarak antara dirinya dengan penonton lain.

Ia larut dalam teriakan dukungan. Menepuk pundak sesama suporter. Mengangkat syal tinggi-tinggi saat lagu kebanggaan dinyanyikan bersama.

Banyak yang terkejut ketika mengetahui sosok yang berteriak penuh emosi di tribun itu ternyata Ketua Muhammadiyah dari Tubaba Namun bagi Haji Susilo, stadion adalah tempat semua orang menjadi setara.

Menariknya, kecintaan Haji Susilo terhadap sepak bola tidak berhenti pada urusan mendukung klub favorit. Ia juga memiliki perhatian terhadap pembinaan talenta muda di daerahnya.

Ia melihat sepak bola sebagai alat pembentukan karakter.

Menurutnya, olahraga mampu mengajarkan disiplin, kerja sama, sportivitas, dan daya juang. Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat pembinaan generasi muda yang selama ini ia dorong melalui Muhammadiyah.

Karena itu, ia mendukung kegiatan turnamen lokal, pembinaan pemain muda, hingga aktivitas olahraga yang melibatkan anak-anak dan remaja di Tubaba.

Baginya, lapangan sepak bola dapat menjadi ruang yang menjauhkan generasi muda dari pengaruh negatif.

Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, Haji Susilo percaya anak muda membutuhkan ruang pelampiasan energi yang sehat. Dan sepak bola memiliki kekuatan besar untuk menyatukan mereka.

Ia kerap menyampaikan bahwa olahraga bukan hanya urusan fisik, tetapi juga pendidikan mental.

“Kalah dan menang itu biasa. Yang penting bagaimana anak-anak belajar berjuang,” kira-kira begitu pandangan yang sering ia sampaikan dalam berbagai kesempatan informal.

Selain fanatik terhadap PSS Sleman, Aris juga dikenal sangat antusias mendukung Tim Nasional Sepak Bola Indonesia.

Ketika Timnas bertanding, suasana rumah dan lingkungannya berubah ramai. Ia mengikuti pertandingan dengan penuh emosi, seperti jutaan masyarakat Indonesia lainnya.

Baca juga: Wakil Ketua DPRD Jateng, M Saleh: Koperasi Merah Putih dapat Menjadi Jembatan Pemasaran bagi Produk Lokal

Baca juga: Program TMMD Kodim Pati "Sumur Bor", Ketersediaan Air Pertanian Desa Godo Meningkat

Gol Timnas bisa membuatnya melonjak kegirangan. Kekalahan dapat membuat suasana hatinya berubah sepanjang hari. Tetapi di balik itu semua, ia melihat Timnas sebagai simbol persatuan bangsa.

Sepak bola, menurutnya, memiliki kemampuan unik yang jarang dimiliki bidang lain: menyatukan masyarakat Indonesia dalam satu emosi bersama.

Saat Timnas bermain, perbedaan politik, status sosial, bahkan identitas organisasi seolah mencair. Semua orang berdiri di belakang lambang Garuda.

Haji Susilo menikmati momen-momen itu.

Ia percaya rasa cinta terhadap bangsa dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana, termasuk tribun stadion dan layar televisi saat menyaksikan Timnas bertanding.

Di tengah citra tokoh organisasi yang sering dianggap formal dan berjarak, Haji Susilo Aris Nugroho menunjukkan sisi berbeda. Ia tidak membangun tembok antara dirinya dengan masyarakat.

Ia bisa berbicara serius soal dakwah di pagi hari, lalu malamnya ikut bernyanyi bersama suporter sepak bola.

Bagi banyak warga Tubaba, itulah yang membuatnya terasa dekat.

Ia hadir sebagai tokoh yang tetap memiliki hobi, emosi, dan kegembiraan layaknya masyarakat biasa. Kecintaannya terhadap sepak bola justru membuatnya lebih mudah diterima lintas kalangan, terutama anak muda.

Di era ketika banyak tokoh tampil terlalu kaku, Haji Susilo memperlihatkan bahwa kepemimpinan juga membutuhkan sisi humanis.

Dan mungkin, di situlah sepak bola memainkan perannya.

Di tribun stadion, seorang ketua organisasi dapat berubah menjadi manusia biasa yang ikut tegang menunggu peluit akhir pertandingan. Tidak ada protokoler. Tidak ada sekat sosial.

Yang ada hanyalah cinta pada permainan bernama sepak bola.

Di tengah gemuruh chant suporter dan kibaran syal hijau, Haji Susilo Aris Nugroho menemukan ruang kebebasannya sendiri—ruang di mana semangat, loyalitas, dan kegembiraan rakyat hidup tanpa batas. (aris)

Komentar