Nguri-nguri Budaya, Taman Pustaka ‘Aisyiyah Al Arqam Tlogowungu Adakan Pelatihan Tari Batik Bakaran

(Foto: Taman Pustaka Aisyiyah Al Arqam Tlogowungu saat melatih anak didik Tari)

Kabarpatigo.com - PATI - Taman Pustaka ‘Aisyiyah Al Arqam Tlogowungu Kabupaten Pati Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Tari Batik Bakaran dan Tari Piring di halaman Taman Pustaka ‘Aisyiyah Al Arqam, yang diikuti 19 anak, Sabtu (2/5/26).

Pelatihan Tari Daerah menjadi salah satu cara melestarikan budaya sekaligus mengembangkan bakat anak dengan cara yang menyenangkan.

Baca juga: Jemaah Calon Haji Berangkat, Chandra Titip Doa untuk Pati

Selain menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat kebersamaan juga menjadi wadah menyalurkan energi positif dan kreativitas. Mereka belajar menghargai budaya sendiri sekaligus memperkaya wawasan estetika.

Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Tlogowungu Asni Nurlaela, yang memiliki semangat dan kepedulian dalam “nguri-uri “ (melestarikan budaya) mengajak kepada anak-anak untuk melestarikan warisan budaya dengan mengajarkan tari Batik Bakaran khas Pati Jawa Tengah dan tari Piring dari Solok Sumatera Barat.

“Semoga pelatihan ini dapat memotivasi anak-anak untuk terus belajar dan melestarikan kesenian tari tradisional. Tari tradisional adalah warisan leluhur yang harus kita lestarikan dan banggakan,” ujar Asni dengan penuh keyakinan.

Baca juga: Presiden Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi, Reformasi Polri Ditargetkan Berjalan hingga 2029

Baca juga: Geruduk DPRD Pati, PPPK Paruh Waktu Desak Pengangkatan Penuh Waktu dan Perbaikan Honor

Pada kesempatan ini Asni mengajarkan gerakan tangan menggunakan Teknik ukel (memutar pergelangan tangan) yang lincah untuk menirukan gerakan mencanting (menggoreskan malam) atau membatik, gerakan kaki meliputi jalan nyirig (berjalan cepat dengan langkah kecil) atau berjalan cepat, gerakan tubuh melibatkan gerakan memutar kain, baik di belakang pinggul maupun ke depan.

Asni juga mengajarkan gerakan tari Piring dengan memegang piring, piring diletakkan di telapak tangan, tidak digenggam, dengan jari-jari, memegang tepi piring agar tidak jatuh, gerakan memutar piring kekiri dan kekanan, gerakan kaki kombinasi gerakan melangkah biasa, langkah serong, jongkok ke berdiri dan berjalan kecil-kecil untuk menjaga keseimbangan piring.

"Kegiatan “nguri-uri” budaya diharapkan dapat menjadi usaha dan langkah merawat, menjaga, dan memelihara agar tetap hidup dan tidak terkikis oleh modernisasi," pungkas Asni. (an)

Komentar