Alif S, Legenda Kendang Kempul Banyuwangi: Perjalanan Hidup Alif S yang Penuh Perjuangan

(Foto: legenda Kendang Kempul Banyuwangi, Alif S)

Kabarpatigo.com - BANYUWANGI - Di dunia musik Banyuwangi, nama Khoirul Alif atau yang lebih dikenal sebagai Alif S, menjadi salah satu sosok paling legendaris dalam sejarah musik Kendang Kempul.

Suaranya yang mendayu, penuh cengkok khas Using, membuat namanya begitu melekat di hati masyarakat Banyuwangi, terutama pada era 1980 hingga 1990-an. Tak heran jika ia kemudian dijuluki sebagai “Raja Kendang Kempul Banyuwangi”.

Alif S lahir di Kecamatan Genteng pada tahun 1956. Ia merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara, pasangan Abu Bakar—seorang keturunan Pakistan—dan Masratik Akim. Sejak kecil, bakat seni Alif sudah terlihat. Ia sangat gemar menyanyi dan sering mengikuti berbagai perlombaan dari panggung ke panggung sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Namun perjalanan hidup Alif kecil tidak sepenuhnya dilalui bersama orang tuanya. Ia memilih tinggal bersama sang kakek, Hasyim Sucipto, seorang penyanyi keroncong yang cukup dikenal pada masanya. Dari tangan sang kakek inilah bakat seni Alif diasah. Ia banyak belajar tentang vokal, irama, hingga cara membawakan lagu dengan penghayatan mendalam.

Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada sang kakek, Alif kemudian memakai nama belakang “Sukoco” dalam nama panggungnya, hingga masyarakat mengenalnya dengan nama Alif Sukoco atau lebih populer sebagai Alif S.

Perjalanan menuju kesuksesan ternyata tidak mudah. Pada tahun 1979, Alif mulai mencoba masuk dapur rekaman. Namun rekaman pertamanya belum mampu menarik perhatian publik. Di masa itu, menjadi penyanyi rekaman bukan perkara gampang.

Persaingan sangat ketat dan kesempatan terbatas. Meski gagal pada awal kariernya, Alif tidak menyerah. Ia terus bernyanyi dari satu panggung ke panggung lain sambil menjaga impiannya menjadi penyanyi besar Banyuwangi.

Kesempatan emas akhirnya datang pada tahun 1981. Saat itu Alif kembali masuk studio rekaman dan membawakan lagu berjudul Konco Lawas. Tak disangka, lagu tersebut meledak di pasaran dan langsung diterima masyarakat Banyuwangi. Lagu itu menjadi titik balik perjalanan kariernya sekaligus batu loncatan menuju popularitas besar.

Sejak keberhasilan Konco Lawas, nama Alif S semakin bersinar. Suaranya yang khas membuatnya cepat dikenal masyarakat. Ia kemudian bergabung dan besar bersama kelompok musik legendaris OM ARBAS (Arek Banyuwangi Selatan) pimpinan Bung Sutrisno.

Bersama grup inilah Alif banyak melahirkan lagu-lagu Kendang Kempul yang kemudian menjadi bagian penting budaya musik Banyuwangi.

Sepanjang kariernya, Alif berhasil menelurkan sekitar 50 album. Jumlah album yang sangat banyak itu membuat masyarakat menjulukinya sebagai Raja Kendang Kempul Banyuwangi. Lagu-lagunya begitu akrab di telinga masyarakat Using dan sering diputar di hajatan, pasar, terminal, hingga radio-radio lokal Banyuwangi.

Di antara sekian banyak lagu yang dibawakannya, beberapa yang paling populer adalah Ketemu Maning, Aduh Kejutan, dan Elek-Elek Ngerejekeni. Selain itu, Alif juga dikenal lewat duet-duetnya bersama Sumiati yang kala itu dijuluki “Ratu Kendang Kempul Banyuwangi”.

Keduanya menjadi pasangan duet paling ikonik di era keemasan musik Kendang Kempul. Lagu-lagu duet mereka seperti Kucing-Kucingan selalu laris di pasaran dan digemari masyarakat.

Banyak orang juga mengira lagu Rehana dinyanyikan oleh Alif S. Padahal lagu tersebut sebenarnya dibawakan oleh Mus DS, yang kebetulan merupakan tetangga Alif sendiri. Karena karakter suara keduanya sangat mirip, masyarakat sering tertukar mengenali suara mereka.

Baca juga: Lewat Adu Penalti, Persegam Gambiran Juara Piala Ketua PSSI Banyuwangi 2026

Baca juga: Perkuat Program Makan Bergizi Gratis, Presiden Prabowo Lakukan Pergantian Pimpinan BGN

Ketenaran Alif tidak hanya membuatnya sibuk sebagai penyanyi. Ia juga sering mendapat undangan sebagai pembawa acara atau MC di berbagai acara masyarakat Banyuwangi. Sosoknya yang ramah dan suaranya yang khas membuatnya mudah diterima di berbagai kalangan.

Namun memasuki tahun 2000, Alif mulai memilih vakum dari dunia hiburan yang telah membesarkan namanya. Faktor usia dan perubahan industri musik membuatnya perlahan menepi dari gemerlap panggung Kendang Kempul. Ia merasa kesempatan rekaman sudah tidak sebesar dulu lagi.

Untuk menyambung kehidupan sehari-hari, Alif kemudian membuka warung kecil di Terminal Rogojampi. Warung itu menjual mi dan kopi, buka mulai sore hingga dini hari. Dari warung sederhana itulah ia melanjutkan hidup, menggunakan sisa hasil jerih payahnya saat masih berjaya sebagai penyanyi terkenal.

Di masa-masa setelah tidak lagi aktif rekaman dan manggung besar, kehidupan Alif berubah jauh dari masa kejayaannya. Demi mencari nafkah, ia juga kerap terlihat mengamen di jalanan Banyuwangi. Bahkan beberapa warga pernah menjumpainya bernyanyi di kawasan pantai.

Dengan suara khas yang dulu begitu terkenal, Alif tetap menyanyikan lagu-lagu Banyuwangian di hadapan masyarakat sederhana. Banyak orang merasa haru melihat seorang legenda Kendang Kempul tetap bertahan hidup lewat suara yang dahulu pernah membesarkan namanya.

Meski hidup sederhana di masa tuanya, Alif tetap dikenal rendah hati dan dekat dengan masyarakat. Ia tidak pernah meninggalkan dunia musik sepenuhnya. Baginya, menyanyi sudah menjadi bagian dari hidup yang tidak bisa dipisahkan.

Pada Jumat, 3 April 2015, perjalanan hidup sang maestro akhirnya berakhir. Khoirul Alif menghembuskan napas terakhirnya di usia 57 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi pecinta musik Banyuwangi.

Meski telah tiada, karya-karya Alif S tetap hidup dan terus diputar hingga sekarang. Namanya akan selalu dikenang sebagai salah satu ikon terbesar musik Kendang Kempul dan penjaga suara khas budaya Using Banyuwangi. (fbMunawir)

Komentar