(Foto: Hafizh Yusuf Muhammad saat mainkan wayang di Seoul Korea Selatan pada 11 Okt 2026)
Kabarpatigo.com - SEOUL - Mataya Arts & Heritage membawa seni tradisi Jawa ke panggung internasional melalui kunjungan budaya bersama guru dan siswa SMKN 8 Surakarta di Korea Selatan, 11-15 Oktober 2026.
Kegiatan ini sekaligus memperluas jejaring seni lintas negara dan mempromosikan Festival Payung Indonesia (FESPIN) 2027.
Program tersebut menjadi ruang pendidikan diplomasi budaya bagi guru dan siswa. Kegiatan ini juga menindaklanjuti kerja sama dengan Culture Research Institute of Asian Folk and Tradition (CRIAFT), lembaga kebudayaan Korea Selatan yang sebelumnya berpartisipasi dalam Festival Payung Indonesia 2026.
Saat itu, CRIAFT turut menampilkan seni tari, pameran 250 karya seni atau artworks, serta peragaan busana hanbok, pakaian tradisional Korea.
Dalam kunjungan kali ini, Mataya membawa dua agenda utama. Salah satunya adalah pertunjukan musik berjudul Milangkori karya Dwi Priyo Sumarto, yang memadukan perkusi tradisional Jawa, vokal, dan wayang.
Karya tersebut terinspirasi dari falsafah Jawa jajah désa milangkori, yakni perjalanan menyusuri kehidupan, mengenal keberagaman, serta menyerap kearifan dari setiap tempat yang disinggahi.
Milangkori menghadirkan perjumpaan berbagai ekspresi seni tradisi Jawa yang tumbuh di tengah masyarakat. Eksplorasi kendang dengan pola kendangan khas Topeng Ireng, Laras Madya, dan Tayub membentuk irama dinamis yang mencerminkan karakter kesenian Jawa.
Jalinan bunyi kendang berpadu dengan vokal tradisional dan permainan wayang. Perpaduan itu membangun dialog artistik antara irama, suara, gerak, dan tutur untuk memperkenalkan kekayaan budaya Jawa kepada penonton internasional.
Karya Milangkori dijadwalkan tampil dalam The 6th Jindo International Drum Festival di Jindo, Korea Selatan, serta sejumlah forum lainnya. Festival tersebut mempertemukan pertunjukan drum, tarian, nongak regional, seni tradisional, dan musik rakyat dari berbagai negara.
Dalam pertunjukan ini, Dwi Priyo Sumarto berkolaborasi dengan Hafizh Yusuf Muhammad (HYM). Dwi merupakan guru karawitan sekaligus seniman musik yang mengembangkan karya berbasis tradisi Jawa. Sedangkan HYM adalah siswa SMK Negeri 8 Surakarta Jurusan Karawitan.
Hafidz YM anak muda dari Pati ini salah satu siswa berbakat yang menekuni seni pewayangan sebagai Dalang. Ia kerab tampil di berbagai even di Kabupaten Pati maupun luar kota antar propinsi.
Keduanya membawa pertunjukan Milangkori yang memadukan kendang, vokal tradisional, dan wayang Jawa sekaligus mempromosikan Festival Payung Indonesia 2027 di Solo.
Kolaborasi guru dan siswa tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan seni tradisi Indonesia sekaligus membuka pengalaman berkesenian di lingkungan internasional.
Selain memperkenalkan seni tradisi Jawa, kunjungan tersebut menjadi kesempatan mempromosikan Festival Payung Indonesia 2027 yang akan berlangsung di Kota Solo pada 3-5 September 2027.
Direktur sekaligus pendiri FESPIN, Heru Mataya, mengatakan pihaknya akan menyampaikan sambutan mengenai FESPIN 2027 dalam Silk Road Art & Culture Forum 2026 di Hwang Changbae Museum pada 13 Oktober 2026. FESPIN 2027 mengusung tema “Sepayung Rempah: Canopy of Umbrellas”.
(Foto: HYM)
Baca juga: Kontingen Pati Juara 3 MAPSI SMK se Jateng 2026
Tema tersebut menghubungkan kekayaan rempah-rempah Nusantara dengan payung tradisional sebagai artefak budaya yang merekam pertukaran antarmasyarakat, termasuk melalui Jalur Sutra Maritim.
“Tema FESPIN 2027 adalah ‘Sepayung Rempah: Canopy of Umbrellas’. Tema ini merupakan metafora puitis yang menyatukan dua identitas historis terbesar Nusantara: kekayaan rempah-rempah yang pernah menghubungkan Nusantara dengan dunia, dan payung tradisional sebagai ‘artefak hidup’ dari pertukaran budaya Jalur Sutra Maritim,” ujar Heru.
Menurut Heru, rangkaian kegiatan di Korea Selatan bertujuan memperluas diplomasi budaya FESPIN di negara-negara Asia. Pengenalan festival tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi sekaligus memperkuat jejaring seni dan budaya lintas negara.
Agenda kunjungan dimulai pada 11 Oktober 2026 di Jindo melalui pertunjukan dalam The 6th Jindo International Drum Festival. Selanjutnya, pada 13 Oktober, rombongan mengikuti program pertukaran budaya yang diselenggarakan Hwangchangbae Arts Foundation di Seoul dengan menampilkan pertunjukan musik Indonesia.
Pada 14 Oktober 2026, rombongan juga dijadwalkan berpartisipasi dalam Humanities, Arts and Wine Forum. Forum tersebut membahas Samshin Halmi serta interpretasi dan perluasan ekspresinya melalui sinema.
Melalui rangkaian agenda tersebut, Mataya Arts & Heritage bersama SMKN 8 Surakarta berupaya mempertemukan pendidikan, pertunjukan seni, dan diplomasi budaya.
Misi itu sekaligus membawa nama seni tradisi Jawa ke panggung internasional dan memperkenalkan FESPIN 2027 kepada jejaring kebudayaan di Korea Selatan. (red)


Komentar
Posting Komentar