Gerhana Datang, Berikut Tata Cara Shalat Gerhana Resmi Muhammadiyah

(Foto: ilustrasi)

Kabarpatigo.com - Fenomena gerhana Matahari maupun Bulan sering kali menyita perhatian kita. Saat itu terjadi, langit berubah warna dan suasana menjadi tidak biasa. Namun, bagi seorang mukmin, gerhana bukan sekadar tontonan astronomi yang memukau mata.

Peristiwa ini merupakan tanda kebesaran Allah yang menuntut respons spiritual, bukan sekadar momen berburu foto.

Tahukah Anda bahwa shalat gerhana memiliki tata cara yang unik? Ibadah ini berbeda dari shalat sunnah pada umumnya. Jika shalat biasa hanya memiliki satu ruku’ dalam satu rakaat, maka shalat gerhana memiliki dua ruku’ sekaligus dalam satu rakaat.

Berikut adalah panduan lengkap yang merujuk pada buku Tuntunan Shalat-Shalat Tathawwu’ dari Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Apa Itu Shalat Gerhana?

Shalat Gerhana adalah shalat sunnah muakkadah yang umat Muslim laksanakan saat terjadi gerhana Matahari (Kusuf) atau gerhana Bulan (Khusuf). Melalui ibadah ini, kita menunjukkan ketundukan kepada Allah sebagai Penguasa Alam Semesta.

Panduan Praktis Tata Cara Pelaksanaan

Berbeda dengan shalat lainnya, berikut adalah urutan pelaksanaan shalat gerhana sesuai tuntunan Nabi SAW:

Laksanakan Secara Berjamaah Umat Muslim sebaiknya mengerjakan shalat ini secara berjamaah di masjid atau tanah lapang.

Tanpa Adzan dan Iqamah Imam atau bilal tidak perlu mengumandangkan adzan maupun iqamah. Sebagai gantinya, bilal cukup menyerukan: “Ash-shaalaatu Jaami’ah” (Mari mengerjakan shalat berjamaah).

Format Unik (2 Rakaat, 4 Ruku’, 4 Sujud)

Rakaat Pertama:

- Mulai dengan Takbiratul Ihram.
- Membaca Al-Fatihah dan surat Al-Qur’an (disunnahkan bacaan yang panjang).
- Melakukan ruku’ pertama dengan durasi yang lama.
- Bangkit dari ruku’ (I’tidal), namun tidak langsung sujud.
- Membaca Al-Fatihah lagi dan surat Al-Qur’an yang lebih pendek.
- Melakukan ruku’ kedua.
- I’tidal kembali, lalu sujud dua kali seperti shalat biasa.

Rakaat Kedua: Tata caranya persis sama dengan rakaat pertama. Anda tetap melakukan dua kali berdiri dan dua kali ruku’ sebelum sujud. Akhiri shalat dengan Tahiyyat dan Salam.

Baca juga: Muhammadiyah Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Minta PBB Jatuhkan Sanksi Tegas

Baca juga: Gelar Pesantren Kilat, SMP Muhammadiyah 1 Pati Hadirkan Alumni Kairo Mesir

Menyimak Khutbah Gerhana Setelah shalat selesai, Imam akan berdiri untuk menyampaikan khutbah. Dalam khutbah tersebut, Imam biasanya menekankan:

- Nasihat mengenai kekuasaan Allah.
- Penjelasan bahwa gerhana adalah fenomena alam murni, bukan kejadian mistis.
- Anjuran memperbanyak istighfar, sedekah, dan doa.

Dalil dan Landasan Syar’i

Pelaksanaan ibadah ini bersumber dari hadits-hadits shahih. Salah satunya adalah riwayat ‘Aisyah r.a. yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan empat kali ruku’ dalam dua rakaat saat terjadi gerhana.

Selain itu, Rasulullah SAW juga meluruskan mitos masyarakat saat itu. Beliau menegaskan bahwa gerhana tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Beliau bersabda:

“Matahari dan bulan adalah tanda kebesaran Allah. Jika kamu menyaksikannya, maka bertakbirlah, berdoalah, kerjakan shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, mari kita hidupkan sunnah ini saat gerhana tiba. Ajaklah keluarga ke masjid untuk shalat berjamaah dan memperbanyak amal kebaikan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. (maklumat)

Komentar